.>

Monday, January 25, 2016

Berjuang

Dan untuk seseorang yang baru saja berkata..
"yang penting kan di coba dulu, kalau lu udah nyoba dan ternyata susah berarti lu ga lagi beneran berjuang."

Karena sepertinya berjuang tak sesederhana teorimu, tuan. Bahkan boleh jadi tak sebercanda obrolan kita. Haha. Tak perlu terlalu serius untuk
masalah ini. Apalagi untuk postingan-postingan blogku. I just wanna be my self. itu saja. Dan untuk postingan kali ini aku hanya ingin mengingatka padamu, tak semua orang bisa berfikir sepertimu. Dan aku hanya tak ingin kau terlalu sering 'memudahkan' segala urusan. Itu saja.

Ahya aku punya sedikit cerita tentang berjuang. Bukan cerita besar, mengagumkan, dan boleh jadi seharusnya kau tak perlu tau. Dan jangan tanya mengapa aku tetap menulis cerita ini. Yap, aku tak sesibuk anda. *uhuk

Saat itu hari Selasa, jam dinding di dalam mushola sudah menunjukkan pukul 03.00 PM. lapangan basket sekolah kita masih digenangi air hujan. Bahkan atap mushola masih berdenting halus beradu dengan rintik hujan hari itu. Ah Desember..


Entahlah akhir-akhir ini aku benci rapat. Alasannya, kau tak perlu tau. Tapi semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu, rapat tak lagi menyenangkan. Semuanya.

Pukul 03.17 WIB. Akhirnya aku dan empat teman lainnya meminta izin formal. Alasannya selalu sama, bimbingan belajar.

Saat itu pukul 03.20-an. Aku berjalan sendirian menuju motorku yang sengaja ku parkir di dekat ruang OSIS, agak jauh memang dari mushola, tapi entahlah.

Beberapa menit kemudian sepeda motorku telah melesat di tengah aspal yang masih digenangi air. Beberapa kali aku juga harus mengelap kaca helm-ku, gerimis ini terlihat terlalu deras untuk disebut gerimis.

Menyebalkan. Aku harus menaikkan kecepatan sepeda motorku, arlojiku telah menunjukkan pukul 3.26 PM. Kalau tidak sampai di rumah 3 menit dari saat itu, boleh jadi aku tak bisa makan. Sedangkan, ahh aku belum ingin mengurangi ke-apalahituyangkaliansebutgendut-ku. Mengertilah.

Beberapa detik kemudian aku melewati belokan di desa sebelah desaku. Iya, belokannya memang tak se-terkenal kelok 9 di Sumatera Barat. Tapi kelokan ini memang cukup menyebalkan, sebab ini adalah jalur tersingkatku menuju sekolah, pun menuju tempat les, dan jalur favoritku menuju ke tempat bimbingan Apalah daya, setiap hari aku hampir melewati jalan itu 4 kali lebih. Ah andai jalanan itu bisa berbicara, mungkin dia sudah berkata bahwa dia sudah lama mengagumiku, dia selalu disana setiap aku pulang-pergi, dia setia menantiku, tak perduli hujan-panas. (okelupakankejonesansayabarusan)

Dan kejadian tak terduga, terjadi saat aku melewati kelok itu. di sisi jalan itu memang sering terdapat pasir, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia aku lebih sering mengemudikan sepeda motorku lebih ke-tengah. Dan apalah dayaku hari itu, tiba-tiba saja truk kuning berangkutan kayu penuh tiba-tiba datang dari arah berlawanan. Aku yang sepertinya tidak mempunyai ketenangan yang wajar shock. 

Dan hari itu, aku tak lagi berteriak ketika aku terkejut. Aku hanya mampu berusaha menghentikan sepeda motorku, mengerem seenaknya. Dan ternyata aku salah mengambil tindakan. Semakin dekat truk itu dariku, roda motor belakangku malah semakin mendekati truk itu. Ah seharusnya aku menerapkan konsep fisika disini, atau matematika.

Tapi setelah itu aku hanya bisa menyimpulkan, mengerem secara mendadak itu hanya akan memperburuk masalah! Dan demi Allah, saat sepeda motorku makin lama makin mendekati truk itu aku tak berani melakukan apapun. Otak penghayal dan blogger sepertiku bisa apa, selain membayangkan hal buruk yang bisa jadi beberapa detik itu juga. Akuu relaaa aku pasraaaahhhh...

Dannn...

Bruukkkkk.. ciiiiittttt... "aduh"
"ehhh, bantu kae bantu.."
"Dek, iso bangun gak?"
"Kene meliper sikek, motor e mas sing minggirke."
"Owalah ndukk.. nduukk... mbok ati ati.. lunyuuu. nek keneng awake truk mau koe dadi opo to cah ayuuu"
"pulang kemana dek?"
"mau kakak anter?"
"dek ga popo kan?"
"dek iso naik motor dewe?"
dll...

Dan kamu tau, tuan.. Bagaimana aku menjawab semuanya?
Aku langsung berdiri begitu saja, setelah beberapa langkah aku pincang seenaknya, lah aku juga baru sadar kalau kakiku ternyata lecet. kemudian aku membantu mamas-mamas itu meminggikan motorku. Kemudian jongkok seenaknya mengecek onderdil motorku. "Mas, iki kok iso meleot ngene ki pie? iso dibeneri gak yo mas?"Kemudian meminta mas-mas disana membenarkan motorku. Kemudian aku hanya berterimakasih atas bantuan 3 mas-mas itu dan ibu-ibu yang dari awal belum bisa berhenti bicara padaku. Melesatkan sepeda motorku lebih pelan dari sebelumnya. Dan sampai dirumah pukul 3.45 PM.

"Halah rasah bimbel" kataku dalam hati. Tapi tiba-tiba bapak muncul dari ruang keluarga, "Dek, bimbel kan? Mangkatlah. Yah mene baru balek". Dan akhirnya aku mengatakan kejadian itu pada bapak. Dan dengan sedikit perdebatan, akhirnya aku dan bapak sama sama setuju untuk merahasiakan semuanya sebelum saatnya pada mamak. And than, aku ga bimbeeellll *yeey

Dann...

Oke, akhirnya beberapa hari kemudian bapak yang melanggar perjanjiannya. Bapak mengadukan semuanya pada mamak seenaknya. Dan aku.. Eeeee... Aku sekarang tak mengerti pada bagian mana aku berjuang.

Baiklah, maaf tuan, sepertinya saya salah memilih cerita.
Tapi, tak apalah.
Terimakasih telah membaca...
Haha, karena sepertinya kamu akan membaca ini. kapanpun itu.

Dan.. Good Night.
11.47 AM.
From my blue room.
Kiinan.
Post a Comment