.>

Saturday, October 3, 2015

Resensi Novel Tere-Liye 'Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

RESENSI KARYA SASTRA FIKSI
“DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN”









DISUSUN OLEH :

NAMA                                              : RIZKI NANDA PUTRI
KELAS                                             : XI IPA 1
GURU PEMBIMBING                    : DIAN YUVITA SARI


SMA NEGERI TUGUMULYO
TAHUN AJARAN 2015/2016

CINTA DARI POHON LINDEN


Judul buku   :Daun yang Jatuh Tak Pernah         Membenci Angin
Penulis          : Tere-Liye
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan X     : Mei 2013
Kategori        : Fiksi, Novel
Tebal Buku  : 264 halaman; 20cm
Harga                         : Rp.48.000,-

            Tere Liye adalah putra asli Sumatera Selatan, lulusan Fakultas Ekonomi UI jurusan Akuntansi. Nama “Tere Liye” merupakan nama pena seorang penulis berbakat tanah air yang bernama asli Darwis. Tere Liye sen
diri di ambil dari bahasa India dan memiliki arti untukmu.
Penyampaiannya yang unik serta sederhana menjadi nilai tambah bagi tiap novelnya.  Justru karena kesederhanaannya, tiap kita membaca lembaran demi lembaran novelnya, kita serasa melihat di depan mata apa yang Tere Liye sedang sampaikan. Uniknya kita tidak akan merasa sedang di gurui meskipun dari tulisan-tulisannya itu tersimpan pesan moral, islam serta sosial yang penting.  kebanyakan orang menyangka tema novel Tere Liye hanya berkisar masalah keluarga – padahal ada juga yang temanya tentang Politik dan Roman Pop, selain itu karya Tere Liye biasanya mengetengahkan seputar pengetahuan, moral dan agama islam.




Berikut 23 buku Tere-Liye:

1.      Pulang
2.      #Aboutlove
3.      Bulan
4.      Rindu
5.      Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta
6.      Bumi
7.      Amelia
8.      Eliana, Serial Anak-anak Mamak
9.      Pukat, Serial Anak-anak Mamak
10.  Burlian, Serial Anak-anak Mamak
11.  Negeri Di Ujung Tanduk
12.  Sepotong Hati Yang Baru
13.  Negeri Para Bedebah
14.  Berjuta Rasanya
15.  Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah 
16.  Sunset Bersama Rosie
17.  Kisah Sang Penandai
18.  Ayahku (Bukan) Pembohong
19.  Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
20.  Hafalan Shalat Delisa
21.  Moga Bunda Disayang Allah
22.  Bidadari-Bidadari Surga
23.  Rembulan Tenggelam Di Wajahmu



Dari beberapa novel tulisannya tersebut terlihat sekali kemampuannya dalam membuat novel dengan berbagai genre hingga novelnya selalu menjadi best seller di pasaran. Demikian pula dengan novel berjudul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” ini. Novel fiksi dengan tema cinta ini mampu mengajak pembaca berpetualang di alam khayal yang beliau ciptakan. Berbagai konflik, mulai dari perekonomian, pendidikan, beda usia, dan yang lainnya terangkum indah dalam novel ini.

SINOPSIS
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik
            Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
            Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih di kepang dua.
            Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dri seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

ULASAN
Novel ini mengisahkan kehidupan kakak beradik Tania dan Dede yang harus putus sekolah dan menjadi pengamen karena keterbatasan ekonomi keluarga sepeninggal ayah mereka. Mereka berdua tinggal di rumah kardus dengan ibu mereka yang sakit-sakitan.
Kehidupan mereka berubah setelah bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar adalah seorang karyawan yang juga penulis buku anak-anak. Danar begitu baik sehingga keluarga ini menganggapnya seperti malaikat. Tania sangat mengagumi Danar karena selain baik, dia juga punya wajah yang menawan.
Suatu ketika Danar memberikan bantuan sehingga Tania dan Dede bisa kembali sekolah dan ibunya berjualan kue. Dengan penghasilan ibunya, akhirnya mereka pun dapat tinggal dikontrakan. Mereka pun semakin dekat seperti keluarga. Danar pun sering mengajak Tania dan Dede untuk pergi ke toko buku yang terletak di Jalan Margonda Raya. Toko buku itu kemudian menjadi tempat favorit mereka karena disana mereka bisa bertukar cerita, melamun, mengkhayal dan menikmati indahnya malam dari dinding kaca lantai dua toko buku tersebut.
Suasana agak berubah ketika danar membawa teman dekatnya yang bernama Ratna. Tania merasa cemburu, ia tidak suka melihat kedekatan Danar dengan Ratna. Rasa tidak suka itu bukan sekedar perasaan iri seorang adik tapi Tania kecil belum bisa menerjemahkan apa arti perasaan itu.
Kebahagiaan mereka berkurang saat ibu Tania meninggal. Dan demi menepati janji terakhir Tania ke Ibunya, dia tidak akan menangis demi siapapun lagi, kecuali ‘dia’. Berat sekali bagi Tania menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah tiada dan sekarang ia yang harus bertanggung jawab menjaga adiknya. Untung saja ada Danar yang selalu berada di samping mereka.
Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Ia berhasil mendapatkan beasiswa ke Singapura. Sederet prestasi berhasil ia raih dalam studinya. Semua pengalaman hidup yang telah Tania alami menjadikannya lebih dewasa dari gadis-gadis lain seumurannya. Perasaannya terhadap Danar juga semakin jelas. Lambat laun Tania tahu, perasaan itu bernama cinta.
Tapi cinta Tania terhadap danar tidaklah mudah. Bertahun-tahun mereka bersama dalam status kakak adik, terlebih lagi mereka terpaut usia 14 tahun. Bagi ABG seperti Tania, jatuh cinta kepada pria yang jauh lebih tua darinya cukup membuatnya pusing. Sisi remajanya membuatnya ingin mengekspresikan perasaannya meskipun ia tidak tahu apakah Danar memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Keadaan semakin sulit saat Danar memutuskan untuk menikah dengan Ratna. Tania patah hati. Ia memutuskan untuk tidak hadir dalam pernikahan mereka meskipun Danar dan Ratna telah membujuknya.
Beberapa waktu berselang, Tania tahu bahwa kehidupan rumah tangga Danar dan Ratna tidak bahagia. Ratna bercerita kepada Tania bahwa Danar telah banyak berubah. Danar menjadi pendiam dan seringkali tidak berada di rumah. Ratna tahu ada sesuatu yang menghalangi mereka, ada seseorang di antara ia dan Danar tapi ia tidak pernah tahu siapakah bayangan itu. Dari cerita Dede akhirnya Tania tahu bahwa Danar juga mencintai Tania. Danar menuliskan perasaannya dalam novel “Cinta Pohon Linden” yang tidak pernah selesai ia tulis. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat Danar merasa tidak pantas mencintai Tania. Tidak seharusnya ia mencintai gadis kecil seperti Tania.
Ketika Tania dan Danar sama-sama tahu perasaan mereka masing-masing, semua sudah terlambat. Biar bagaimanapun Danar telah menikah dengan Ratna. Akhirnya Tania kembali ke Singapura dan memutuskan untuk meninggalkan semua cerita cintanya.
Ada salah satu kalimat yang sangat saya suka dalam novel ini, dikutip dari halaman 196, “Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan”
Entah akhir yang bahagia, atau sedih. Itu tergantung pada persepsi pembaca. Yang jelas, memang cinta selalu menang. Cinta akan selalu menang, walau cinta tidak harus memiliki. Cinta yang menerima setulusnya, cinta yang tidak egois, cinta yang tidak mencoba berbahagia di atas perih orang lain. Cinta yang sempurna? Tidak mungkin, karena cinta sempurna hanya dimiliki oleh Sang Pemilik Cinta...

KEUGGULAN BUKU
Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur maju-mundur yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita hingga menemukan benang merahnya. novel ini memberikan pelajaran. Terutama filosofi “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Apapun yang kita alami, jangan pernah menyalahkan keadaan.

KELEMAHAN BUKU
Menurut saya ceritanya klise, agak mirip sinetron. Cerita dalam novel ini terlalu mudah ditebak. Karya Tere Liye yang lainnya selalu bisa membuat saya betah membaca tanpa  ada keinginan untuk melompati masing-masing bagian cerita. Tapi ketika membaca novel ini, berkali-kali saya lewatkan bagian-bagian yang terasa membosankan. Berbeda dengan karya Tere Liye yang lain, yang meskipun sederhana tapi bisa terasa istimewa lewat penuturannya yang apa adanya. Karakter Danar yang saya rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita. Mungkin karena di dalam novel ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan perasaan cintanya, juga ia menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.

RUMUSAN KERANGKA BUKU
Pukul 20.00 : Saat Semuanya Berawal
Pukul 20.15 : Pertama Kali Aku Mengenal Perasaan Itu
Pukul 20.21 : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pukul 20.26 : Setelah Ibu Pergi
Pukul 20.32 : Sweet Seventeen yang Indah
Pukul 20.37 : Liontin Seribu Pertanyaan
Pukul 20.45 : Izinkan Aku Menangis Demi Dia, Ibu!
Pukul 20.50 : Hari-Hari Menyakitkan
Pukul 21.02 : Masa-Masa Berdamai!
Pukul 21.10 : Potongan Teka-Teki Pertama
Pukul 21.15 : Semuanya Berubah Teramat Cepat
Pukul 21.17 : Ketika Semua Potongan Lengkap
Pukul 09.00 (Keesokan Pagi) : Kembali

TINJAUAN BAHASA
Bahasanya sederhana, meskipun beberapa kali penulis menggunakan bahasa yang syarat akan majas, namun tetap mudah dipahami. Penulis menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh semua level pembaca, baik itu remaja, dewasa, dan yang lainnya. Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca.

PENUTUP
Saya rasa, novel ini pantas untuk dibaca oleh semua kalangan. Sebab, cerita dalam novel ini cukup menginspiratif dan memberikan pelajaran tentang keikhlasan yang sebenarnya. Serta tak diragukan lagi, penulis buku ini merupakan penulis terkenal yang hampir semua bukunya digemari oleh penikmatnya.


“…. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya….”
(DIA)
Post a Comment