.>

Wednesday, March 18, 2015

Seharusnya Semua Masih Sama




Bukankah seharusnya semua masih sama?
Aku hanya ingin terus memeluk namamu erat ketika kau jatuh..
Ketika tanpa kata kau mulai menyampaikan isyarat itu..
Aku hanya takut kau terluka..

Bukannya seharusnya semua masih sama?
Aku duduk di bangku ini untuk yang ke 1.338 kalinya.
Setiap malam.. Selalu..
Masih dibawah langit yang sama..

Lalu kulihat di ke kanan kamu ada..
Sibuk meminum mocca buatanku..
Kau lihat kekiri aku ada..
Membiarkan mocca itu di bawah hidungku..
Meninggalkan lapisan tipis di lensa kacamataku..

Bukannya semua seharusnya masih sama?
Kita tertawa dan menangis dan merindu dan terluka..
Membiarkan musim berulang-ulang mengikuti ketetapan-Nya..
Membiarkan kita belajar arti bosan, rindu, pergi, dan menunggu..
Kau bosan, dan aku merindu..
Kau pergi dan aku masih menunggu..

Bukannya semua seharusnya masih sama?
Ku lihat kekanan.. Hilang..
Dan suatu saat ketika kau lihat ke kanan, aku masih ada.
Mulai membiasakan diri membersihkan lensa kacamataku..
Menghapus embun yang tak lagi dari mocca..
Tapi dari rindu yang mencair, meluap, menggenang..

Bukannya semua seharusnya masih sama?
Kamu datang dan menghilangkan lukaku..
Tapi kau malah menghilang dan mendatangkan lukaku..

Ah.. Sudahlah..
Selagi langit masih bisa berwarna biru..
Aku akan tetap duduk ditempatku..
Menunggu orang lain mau meminum mocca hangatku..
Menemani senjaku..

Aku pergi, tuan.. 

Post a Comment