.>

Sunday, March 8, 2015

Makalah Geografi : PENGARUH TOPOGRAFI WILAYAH TERHADAP POLA PEMUKIMAN PENDUDUK DESA L. SIDOHARJO, TUGUMULYO

MAKALAH GEOGRAFI
“PENGARUH TOPOGRAFI WILAYAH TERHADAP POLA PEMUKIMAN PENDUDUK DESA L. SIDOHARJO, TUGUMULYO”


Disusun oleh :
Rizki Nanda Putri
Kelas X Mia 1 SMAN Tugumulyo
Tahun Ajaran 2014/2015


BAB.I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sejak dahulu manusia hidup secara berkelompok, bahkan pada masa manusia purba yang masih hidup secara nomaden pun mereka telah mengenal hidup berkelompok. Manusia hidup berkelompok karena mereka adalah makhluk social, mereka saling membutuhkan satu sama lain, saling berketergantungan. Selain pada makhluk lainnya, manusia juga menjalin k
etergantungan terhadap alam sekitar dan lingkungannya. Mereka membutuhkan air, transportasi, dan lain-lain untuk kehidupannya. Karena itulah manusia mulai membuat rumah-rumah dimana mereka bisa menemukan kebutuhan-kebutuhannya itu dengan mudah, seperti di pesisir pantai, mengikuti aliran sungai, ataupun mengikuti jalur jalanan dan lainnya, selain itu mereka sering juga memadati daerah-daerah yang memiliki potensi tanah yang baik, ataupun mereka biasanya juga tinggal di perkotaan dimana mereka bisa bekerja dengan mudah.
               Dari pola persebaran penduduk yang saya lihat di Desa L.Sidoharjo itu juga saya mengetahui tentang bagaimana penduduk L.Sidoharjo mencoba mencari potensi terbesar untuk memperoleh kemudahan bagi kelangsungan hidupnya dengan membangun rumah-rumah di tempat yang mereka anggap paling strategis.

B.    Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh topografi wilayah terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo?

C.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh topografi wilayah terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo.

D.    Manfaat Penelitian
Dapat menambah wawasan penulis dan pembaca tentang dampak pengaruh topografi wilayah terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo.





BAB.II. LANDASAN TEORI
A.    Pengertian dan Penjelasan Topografi
Topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebaginya) dan asteroid. Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis lahan. Relief adalah bantuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang topografi secara kualitatif adalah bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lereg, panjang lereng dan bentuk lereng.


Dalam kaitannyan dengan topografi dalam pembentukan tanah dapat dipahami sebagai berikut:

Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mempergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah, sebaliknya genangan air di dataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah.

Didaerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi aris (agak kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis tanah grumusol kelabu, sedangakan di lereng pegunungan terbentuk tanah jenis grumusol bewarna kuning coklat. Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunya garam-garam dikaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi didaerah sub humid terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumusol, baik secara fisik maupun kimianya. Dilereng cekung seringkali bergabun membentuk cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang.
     
Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:

a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

b. Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam. Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara :

1.      Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah
2.      Kedalaman air tanah
3.      Besarnya erosi yang terjadi
4.      Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah



Relief atau topografi merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut :

•         Posisi singkapan batuan (out crops) terhadap matahari
•         Posisi permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan


Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan efek terhadap pembentukan tanah adalah :

•         Beda tinggi permukaan lahan (amplitude)
•         Bentuk permukaan lahan
•         Derajat kelerengan
•         Panjang lereng
•         Arah lereng
•         Bentuk punggung lereng


Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak langsung berkolerasi terhadap :

•         Pelapukan fisik dan kimiawi batuan
•         Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah
•         Translokasi (pemindahan secara gravitasi) atau euvasi dan podsolisi
•         Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)


Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :

•         Tebal daging (solum) tanah
Solum tanah pada daerahlembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah yang terdapat dipuncak bukit atau lereng terjal.

•         Drainase tanah
Tanah didaerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik.

•         Satuan tanah
Jenis tanah yang perbedaanya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh reliefatau topografi.

•         Tingkat erodibilitas tanah
Semakin besar selisih tinggi, derajat kelerenga, dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodibilat tanah.

B.    Pengertian Pola Pemukiman Penduduk
Menurut Alvin L. Bertrand, berdasarkan pemusatan masyarakatnya, pola pemukiman penduduk desa dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:

1.   Nucleated village, yaitu penduduk desa hidup bergerombol membentuk suatu kelompok yang disebut dengan nucleus.

2.   Line village, yaitu pemukiman penduduk yang menyusun tempat tinggalnya mengikuti jalur sungai atau jalur jalan dan membentuk deretan perumahan.

3.   Open country village, yaitu di mana penduduk desa memilih atau membangun tempat-tempat kediamannya tersebar di suatu daerah pertanian, sehingga dimungkinkan adanya hubungan dagang, karena adanya perbedaan produksi dan kebutuhan. Pola ini disebut juga trade centre community.


Sedangkan menurut Bintarto, terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu:
1. Memanjang jalan. Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan.
2. Memanjang sungai.
3. Radial. Pola desa ini berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
4. Tersebar, pola desa di daerah karst gunung adalah tersebar atau scattered, merupakan nukleus yang berdiri sendiri.
5. Memanjang pantai. Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai. Contoh ini terdapat di daerah Rengasdengklok Jawa Barat dan di daerah Tegal.
6.  Sejajar dengan kereta api.
Line village atau pola desa memanjang mengikuti alur
jalan. (Sumber: Indonesian Heritage)

Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian Heritage)

Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai.
(Sumber: Indonesian Heritage)


Jika kita perhatikan, ternyata ada keterkaitan antara pola pemukiman penduduk dengan pola pemukiman dengan iklim, pola pemukiman dengan kesuburan tanah, dan pola pemukiman dengan topografi wilayah.

1. Kaitan Pola Pemukiman dan Iklim
Pada umumnya penduduk terpusat di daerah-daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Banyaknya penduduk di suatu daerah dengan curah hujan yang cukup banyak menyebabkan sumber air banyak ditemukan di mana-mana. Hal ini dapat menyebabkan pola pemukiman penduduknya juga tersebar. Kurangnya curah hujan menyebabkan sumber air sedikit. Dengan demikian, penduduk akan mencari tempat tinggal yang memiliki sumber air untuk menunjang kehidupannya. Hal ini dapat menyebabkan pemukiman penduduk membentuk pola terpusat yang melingkari sumber air tersebut.

2. Pola Pemukiman dan Kesuburan Tanah
Daerah yang memiliki tanah-tanah yang subur dapat mengikat tempat tinggal penduduk dalam satu kelompok
(memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).

Contoh pola pemukiman berdasarkan kesuburan tanah
(tersebar) (Sumber: Indonesian Heritage)
3. Pola Pemukiman dan Topografi Wilayah
Topografi merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pola pemukiman penduduk di daerah-daerah. Pola pemukiman penduduk di daerah pantai akan membentuk pola "line" atau memanjang mengikuti garis pantai. Pola line juga akan terbentuk di sepanjang jalan, jalan kereta, atau sepanjang aliran sungai. Begitu juga di daerah dengan topografi relatif datar biasanya membentuk pola mengelompok.

Pada daerah dengan topografi kasar atau bergelombang menyebabkan pola pemukiman penduduknya tersebar, karena mereka mencari tempat yang agak datar untuk membangun tempat tinggalnya. Di daerah ini tidak jarang jarak antara satu desa dengan desa lainnya sangat berjauhan, dan hanya dihubungkan oleh jalan setapak.

C.  Faktor yang Menyebabkan topografi wilayah berpengaruh terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo

·       Kemudahan untuk mendapatkan transportasi
Penduduk L. Sidoharjo mayoritas membangun perumahan di sepanjang kanan-kiri jalan untuk memperoleh kemudahan dalam bertransportasi, selain itu perumahan di sepanjang jalan juga memberikan penghasilan lebih, hal itu disebabkan karena nilai jual rumah dan tanah di sepanjang kanan-kiri jalan itu tinggi, selain itu peluang untuk membuat usaha di sepanjang jalan itu juga mempengaruhi penduduk untuk membangun rumah di sepanjang kanan kiri jalan.

·       Kemudahan untuk memperoleh kebutuhan air
Beberapa rumah di L. Sidoharjo dibangun di dekat aliran sungai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam memenuhi kebutuhan air. Air tersebut biasanya mereka gunakan ketika musim kemarau, pada saat air dari sumur kering.

·       Kemudahan untuk memperoleh pendidikan dan kantor pemerintahan
Beberapa rumah di L. Sidoharjo dibangun disekitar pusat pendidikan dan pemerintahan Desa L. Sidoharjo. Menurut pendapat beberapa warga di sekitar TK Walisongo L.Sidoharjo, SDN L. Sidoharjo, SMPN L. Sidoharjo dan kantor kepala desa L. Sidoharjo serta Posyandu adalah untuk memudahkan dalam memperoleh pendidikan dan pelayanan masyarakat.












BAB.III. PEMBAHASAN
A.    SIMPULAN
Topografi wilayah merupakan bentuk tampilan permukaan bumi. Topografi wilayah mempegaruhi banyak hal, termasuk persebaran penduduk. Pada persebaran penduduk, topografi berperan sebagai alasan penduduk untuk membangun rumahnya, baik di sepanjang jalan, sepanjang aliran sungai, dan lainnya. Persebaran penduduk dengan alasan topografi bertujuan untuk mempermudah penduduk itu sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk kebutuhan social dan lainnya.

B.    SARAN
Sehubungan dengan adanya keanekaragaman topografi wilayah, tak ada salahnya kita sebagai penduduk membangun perumahan di tempat-tempat yang kita anggap strategis, Karen penduduk di tempat-tempat lain pun sudah melakukan hal tersebut.

C.    DAFTAR PUSTAKA
Penduduk di areal pusat pendidikan dan pemerintahan Desa L. Sidoharjo
Kepala Desa L.Sidoharjo
Post a Comment