.>

Thursday, November 13, 2014

Sendiri

"Jadi senja, apa lagi yang membuatnya mengerti..."

 >><<

      "Kamu kenapa hey? wajahmu pucat hari ini?" ucapnya lirih sambil menyentuh dahiku perlahan.. "badanmu hangat.. kamu sakit?" katanya lagi.. Ah selalu seperti ini bukan? Aku menemukan sosok kakak lagi.. Lagi-lagi seseorang yang keibuan..

      "Hah? Paan? Ihh pegang-pegangg.. Jatuh cinta awas lo!! Iyuuhh" sigap aku mundur, melepas earphone yang sedari tadi terpasang di telingaku. dengan volume laptop 40% dan volume Winamp 10%. Entahlah dari dulu komposisi ini selalu nyaman ditelingaku. Terlebih untuk hari ini. Makalah (lagi) Ahh sepertinya mereka enggan berhenti sehari saja menghujam jari-jari munyil nan unyu ini untuk berhenti mengetik dan menulis tugas. Kurikulum yang katanya akan memperbaiki moral, tapi membuat kami yang disini merupakan kelinci percobaan dari kurikulum ini keteteran.. Berontak sana-sini.. Terlebih beban fikiran atas materi-materi ini juga masih harus dikolaborasikan dengan sikap yang se'HARUS'nya baik ini. Ahh.. Mampu apa kita? Jalani saja..

      Ahya.. kembali lagi pada ocehan nenek lampir yang biasa ku panggil 'Rin' ini.. Lagi-lagi dia 'sok' keibuan. Apa pula coba memeriksa badan seperti itu? Ah aku baik-baik saja. Hanya suhu kamarku yang pada beberapa hari ini tiba-tiba berubah, pada jam-jam seperti ini terasa lebih sejuk. dingin. 05.43 P.M . Sehingga suhu tubuhku sedikit lebih tinggi dari ruangan ini. Ah tidak juga, yang lebih tepat mungkin karena barusan dia memegang minuman yang langsung diambil dari lemari es biru yang terletak di warung ku. -dulunya warung, tapi sekarang mamakku memang lebih sering menutupnya- Ah.. Aku baik-baik saja kan?

     "Berhentilah Nan!" tiba-tiba suaranya mengalahkan nada-nada lembut lagu Sammy Simorangkir - Kau Harus Bahagia yang volumenya sudah kuatur 4 banding 1 itu. "Berhenti! Atau aku takkan pernah memperingatkanmu lagi!"

     "Heyy.. biasa aja kali ngomongnya.. Aku dengerrr.. gausah ngebentak!!! Aku lagi serius! Ngerti gak sihh!!" kataku dengan nada 3/7 dari kemampuan maksimalku untuk berteriak. Ahya aku pernah mengeluarkan kemampuan maksimalku, 6 tahun yang lalu. Pertengahan kelas 4 SD. Untuk pertama kali dan terakhir kalinya aku sedekat itu dengan makhluk yang sama dengan makhluk yang berhasil membuat Andrew Garfield yang menjadi sosok Peter Parker menjadi seseorang yang memiliki kekuatan untuk 'mengeluarkan' semacam 'rajutan' dari tangannya. Mampu berjalan didinding. dan mampu 'melompat' dari satu gedung ke gedung lainnya. Spider-Man. 

      Waktu itu pagi hari. Hari Jumat. Aku ingat sekali waktu itu mamak sudah menyiapkan pakaian olahraga orange. Hari jumat. Senam bersama. Manjanya aku? haha. Pagi itu seperti biasanya, aku bangun dengan paksaan malaikat tanpa sayapku. Cinta pertamaku. IBU.Kemudian dngan malasnya aku mengambil handuk pink yang saat itu masih berwarna merah muda ke-Jambon-jambonan. Duduk di kursi biru yang lagi-lagi ku pinta dengan tangisan. Namun akhirnya sama saja. Rusak. Dengan mata yang masih tigapuluhsembilan persen merem aku diusir Mbak Wulan, nyapu. Setelah beberapa detik mempertahankan kekuasaanku, akhirnya aku pasrah. pergi. masuk kamar mandi. Ku intip sekali lagi, dan hey lihatlah wajah puas itu! Huh! Jahat sekali!
     
     Seperti ritual mandi pagiku yang sampai hari ini aku lakukan. duduk di lantai, masukin kepala ke ember, kemudian mengambil air kumur-kumur langsung dari keran, sikat gigi 3x2x9 ku (3putaran untuk diulangi dua kali di 9 titik, depan kiri, depan, depan kanan, belakang bawah kiri, belakang bawah kanan, bawah, belakang atas kanan, belakang atas kiri, atas) kumur-kumur dari keran lagi. Kemudian shampo-an dengan dua kali pengulangan, dan kemudian bersabun. Diseluruh tubuh. menggunakan jaring-jaring (?)

     "Selama ini semua ritual itu hidup rukun sebelum tiba-tiba kerajaan spider menyerang.." kataku perlahan yang lagi-lagi membuat iblis bersayap itu cepat-cepat memegang dahiku yang kemudian ku tangkis lebih dahulu. Aku tersenyum lebar, aku menang kali ini. Kemudian ku pasang lagi ear phone di telingaku. Ku dengar sayup-sayup suara iblis bersayap itu lagi. Dan kuacuhkan.

     Ahya kembali pada peristiwa paling bersejarah itu. Tiba-tiba setelah aku melakukan ritual shampo untuk sapuan kedua, kurasakan tangan kananku yang menjulang meraih rak sabun itu telah dikuasai makhluk lain. makhluk kecil, berbulu. Dan!! Astagaaa!! ternyata kerajaan spider itu memutuskan tindakan tegas atas perlakuanku beberapa hari sebelum itu. Membunuh seekor laba-laba menggunakan parfum. milik mbakku.Terang saja, aku sontak berteriak tanpa terlebih dahulu mengambil nada. Bayangkan saja, dia punya lebih dari dua mata. lebih dari dua kaki! Mengerikan sekali membayangkan dia berjalan di jemari-jemari lentik nan gemulai seperti tanganku.

     Kemudian tanpa persiapan start jongkok ataupun start tegak yang berulang kali dijelaskan guru olahraga di SD ku yang sampai sekarang aku masih tak tau apa bedanya, aku perlahan mundur dari rak itu, turun dari 'tempatBAB' yang kujadikan pijakan untuk membuatku lebih tinggi itu, ah disaat seperti itu aku berharap aku seekor babi, eh barbie. atau sebuah cecak! Ya Tuhann!! Lepaskan tanganku!! kali ini saja!!!

     Aku mundur lagi, tak berani bergerak. tangan kananku masih lurus kedepan. kuraba belakangku, pintu!! gagang pintu!! tangan kiriku perlahan membuka pintu, putaran 90 derajat ke arah kanan. Tak terbuka juga, dan tiba-tiba laba-laba itu bergerak!! Stressss!!! "MAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK" tiba-tiba aku sudah diluar. bershampo, bersabun, mata merah, tangan kanan lecet -mungkin tanganku sudah dipasangi bom bunuh diri spider yang meledak beberapa detik setelah aku keluar. konon katanya beberapa menit setelah aku sekolah bapak menemukan mayat laba-laba itu mengenaskan di depan pintu kamar nomor dua dari belakang- duduk terlentang di depan pintu WC. ngos-ngosan. Sontak dong bapak mamak mbak wulan yang masih menganggapku adik ini mangap melihat kondisiku yang lebih mirip dengan zombie penunggu kamar mandi. Shock. Hening.

     dan setelah itu, hingga detik ini, aku selalu mengecek tempat sebelum masuk ke ruangan. Barang kali mereka masih memendam dendam tak terbalaskan atas terbunuhnya 2 prajurit yang sengaja mereka kirimkan padaku. Ah.. mereka licik!!

    "Woy Nan..." teriak Ririn di telingaku. ah ternyata dia berhasil mencabut ear phone hitam yang selalu tercolok di laptop hitamku. Aku hanya diam. tersungut-sungut kekesalan. Ah dia lagi-lagi menghancurkan lamunanku. 

    Kupasang ear phone sebelah kiriku, kemudian aku diam sebentar. Kulihat dia bolak-balik memebereskan buku yang tersebar di lebih dari setengah dari jumlah tempat yang tersedia di kamarku. "Kamu capek?" tegurku pada akhirnya. Ah lihatlah, umurnya sama sepertiku, tapi dia sudah seperti kakakku yang 7-8 tahun lebih tua daripada aku. Dia diam.

    "Makanya kamu berhenti memaksakan makalah itu. berhentilah Nan. Badanmu hangat!" teriaknya lagi, kali ini kulihat wajahnya serius. Berbias (?) degan suara Afgan pada lagunya Tanpa Syarat yang sekarang kulirik menunjukkan waktu 3.44 yang samar-samar terdengar "ku takkan lari karena cintaku sempurna" dan berakhir pada menit ke 4.01. kemudian ku lihat lagi wajahnya. Aku diam. melepas ear phone kiriku. membuat kedua-duanya sekarang berbeturan karena gelombang yang terjadi sesaat setelah earphone itu ku letakkan. Aku diam lagi.

     "Sekarang apalagi?" katanya perlahan. merengkuh bahuku, sekarang kami tepat bertatapan di atas kasur dengan sprei berwarna merah yang hampir menghabiskan luas lantai kamar biruku. Aku menatap langit-langit yang berwarna hijau. Ah selalu sesuai permintaanku. Dinding biru. damai. langit-langit hijau. menyegarkan. Aku diam lagi.

     "Rin, apa aku memang benar-benar harus sendirian disini?" ucapku akhirnya. aku diam lagi. kupandangi jam tangan hitam yang dibelakangnya samar-samar terbaca RR. pukul 06.00 PM. Hujan. Entahlah sejak kapan. aku baru sadar dari gorden coklat itu cahaya senja mulai tersamarkan. ah dia kalah dengan hujan. November. Musim hujan akan mulai.

     "Rin.. bahkan semuanya. Setiap dari mereka. Pergi Rin.. Satu persatu.." lirihku lagi. Sekarang ku lihat semuanya buram. Kacamataku berembun. Namun kali ini bukan karena keringat. Tapi air mata.

     "Rin.. Ternyata aku salah, SMA tak sebaik yang aku fikirkan.." Dia masih diam, memandangiku. Aku melepas kacamata hitam berbias ungu itu. Mengelap dengan kerudung biru tua yang kupakai. Memasangnya kembali.

     "Rin.. hari ini lagi-lagi aku merasa tak berhak ada di sini..  Lihatlah Rin.. Lihat duniaku sekarang. Ah ini membosankan! Bayangkan saja, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk menghafalkan empat pilarku, kemudian aku harus kembali pada rutinitas harianku. sekolah. latihan untuk LCC, rohis, rapat, bimbel, les, kerja kelompok, pulang senja. bahkan malam. Mengerjakan tugas, tidur. bangun lagi tengah malam, dan kau harus tau Rin, pagi itu aku kembali harus melihat buku UUD, tap MPR, ah.. cuma tahajud yang membuatku sedikit tenang.. iya hanya itu...."

     "....Dan taukah Rin, bahkan pada hari minggu pun itu terkadang masih terjadi.. Lihatlah Rin wajah orangtuaku. Lihatlah berapa banyak uban yang hadir tanpa aku dapat menghitungnya bertambah satu-satu perharinya. Aku hanya lelah Rin...."

    ".....Lihat pula mbakku Rin, yang terpajang jelas di dinding kamarku. Mereka sekarang kemana? Ah mereka terlalu sibuk dengan kehdupan mereka. Hey Rin, ini hidupku, mana ada yang perduli setulusnya pada ku. Mereka sibuk.. teramat sangat sibuk.. Mana mereka sempat sebulan saja bercerita sedikit tentang harinya, mereka sibuk Rin. Tak seperti dulu...."

     Kacamataku berembun lagi.. Dan kini aku tak sanggup untuk sebentar saja mengusapnya. Kubiarkan buliran-buliran air hangat itu mengalir di pipiku. menetes ke rok abu-abuku. 

     ".... Rin.. Aku dulu punya sahabat. beberapa. dan mereka juga seolah lenyap. hilang. seperti ulat yang telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.. Ah barangkali sekarang mereka sedang berjalan-jalan melihat nektar bung yang teramat menggiurkan itu.. tapi aku memilih untuk bertahan disini Rin.. Aku belum ingin jadi kupu-kupu.."

     ".... Dan dulu Rin, ada seseorang yang boleh jadi mau menemaniku. Setidaknya dengan permintaan-permintaan dan mimpi-mimpi konyol yang dia katakan.. Setia.. Masa depan.. Kebahagiaan.. Hal-hal yang dipaksa lepas dari kehidupanku, saat aku benar-benar butuh..."

     "....Lalu kemudian diam-diam aku menyayangi sosok baru... Dia seolah hidup.. mengatakan dia bisa jadi yang terbaik..Mengatakan dia ada di sini.. Dia akan menjadikan aku yang terbaik diantara semuanya.. Menjadikanku sebagai alasan di setiap bahagianya.. Menjadikan aku dari salah satu orang yang hadir dan takkan pernah hilang..."

     Aku diam... mengatur nafas... Dia juga masih diam.. tenang... "Dan.. sekarang Rin.. dia juga sama saja.. Seperti pasir yang perlahan hanyut terbawa ombak.. perlahan menciptakan goresan baru..Ah nyatanya dia sama saja... Aku tak pernah jadi yang terbaik Rin.." Aku menangis lagi.. Nafasku tak beraturan lagi..

     "Ingatkah Rin? beberapa hari yang lalu aku mengatakan bahwa boleh jadi dia tak pernah menyayangiku.. Dia hanya tak mau sendiri.. Ahh Rin.. Seharusnya aku tau diri bukan?"

     Aku diam lagi, hujan perlahan menjadi rintik. kulihat layar laptop ku.. kulihat lagi. gelap.. tapi disana masih jelas pesan dari dia, ya di laptopku memang kubuat pengaturan androidnya, dan itu yang barangkali aku sesali..

     "Haha.. Rin.. Kemarin aku sengaja mendownload aplikasi android itu untuk dia. Ah akhir tahun.. pasti sinyal susah.. Hhaha. Tapi aku tak tau.. Ternyata pesan-pesan itu terkadang menyakitkan.."

     "Rin.. Mudah saja dia mengatakan ini itu padaku.. Ah nyatanya dimatanya aku bukan siapa-siapa. aku masih di nomor sekiankan. Masih ada yang lebih baik dariku. Yang katanya lebih jujur dariku.. Ah Rin.. Andai dia tau apa yang aku tau.. Bisa saja aku mengatakan semuanya, tapi mustahill.. tak mungkin.."

     "... Rin.. aku sakit.. kau benar" aku tertawa.. kau merengkuhku, memelukku, menenangkanku, aku menangis, dan saat aku tenang.. aku memelukmu.. Kau hilang... kembali ke cermin.. Dan aku kembali menangis.. Sendirian.. 


     Kurengkuh lagi buku-buku yang ternyata masih diposisi semula, aku menoleh ke arah jendela yang pias menampilkan langit yang posisinya terkalahkan oleh dinding dari rumah sebelah. Reda.. 

     Ear phone itu masih di telingaku..

     Sayup-sayup...

     Samsons - Diujung Jalan...

Tuhan kembalikanSegalanya tentang dia seperti sedia kalaIzinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kaliAgar aku dapat merasakan cinta ini selamanya



"Selamat malam Rin.. Kuharap esok kau mau mendekapku, menenangkanku lebih lama lagi..."




Post a Comment