.>

Saturday, November 29, 2014

Bintangmu Masih Disana


https://soundcloud.com/rizkinandaputri/bintangmu-masih-disana

Aku ingin bercerita tentang hujan..
Tentang instrument indah yang mengalun menenangkan duniaku..
Tentang burung-burung yang bertahan di sangkar memeluk dua atau tiga cahaya diantara cangkang yang berhamburan ..
Dan berharap setelah rintik itu habis, si bungsu dapat berkicau memanggil namanya..

Aku ingin bercerita tentang kehangatan..
Tentang kenyamanan yang membuatku selalu ingin bertahan..
Tentang musim gugur yang memaksa miliaran daun terpisah dari tangkainya.
Taukah engkau, Kini senja tak sejauh itu..
sekarang bahkan aku merasa rumput yang ku pijak juga menjingga..
Seperti langit senja itu…

Aku ingin bercerita tentang mu..
Tentang hujan yang membuatmu terlelap di kedamaian malam..
Tentang kehangatan yang membuatku selalu merindukanmu..
Tentang senja yang ditemani rintik..
memaksa dua tiga anak burung itu meringkuk kedinginan menatap mentari yang perlahan hilang..
Tak hanya nama yang disebut si bungsu..
Tapi  dia berkata “dia menyayangimu”


Aku ingin bercerita tentang kebetulan..
Tentang aku yang bahagia hanya karena tak sengaja mengucapkan kalimat yang sama denganmu..
Tentang aku yang selalu mudah menemukanmu..
Tentang hal-hal tentangmu yang selalu aku kait-kaitkan dengan kehidupanku..

Aku ingin bercerita tentang takdir..
Tentang hal-hal sederhana yang katamu bukan kebetulan..
Tentang pertemuan sepihak..
Tentang goresan pensilku yang ditemani lumeran cat airmu..
Tentang detik-menit-jam pertemuan kita..
Taukah kamu, terkadang aku mengusahakan itu..
Seperti hal yang membuat senja itu aku bisa di tempat itu..
Dimana kau bisa melihat air dan roda kuda besi itu sama-sama mengalir seirama di kanan kirimu..

Aku ingin bercerita tentangmu..
Tentang kebetulan-kebetulan yang kau sebut takdir..
Tentang kesamaan-kesamaan yang membuatku merasa kau ada..
Tentang aku yang masih tak bisa membedakan kebetulan dengan takdir..
Tentang dirimu yang membawaku ke dunia baru..
Dunia tanpa realitas..

Pernahkah kau berfikir untuk berhenti namun kau tak mampu?
Pernahkah kau merasa ada tapi sebenarnya hilang?
Pernahkah kau merasa tk berhak tapi tetap bertahan?

Dan..

Pernahkah kau merasa memiliki tapi sebenarnya tak pernah..

Entah sejak kapan aku berfikir kau mungkin tak pernah benar-benar ingin menjagaku..
Kau hanya tak mau sendiri..
Menatap senja yang ditemani rintik..

Tapi tenanglah..
Aku disini..
Entah karena apa..
Aku memilih membuat coklat hangat untuk menemani senja kita..
Di beranda itu..
Kita hanya berdua..
Bercerita tentang takdir dan kebetulan yang membuatmu hanya tersenyum..
Lalu kau mengusap kepalaku perlahan..
Merusak tatanan kain biru yang melilit kepala hingga punggungku..

Disini kita hanya berdua..
Menatapi burung-burung yang saling memeluk-meringkuk di dahan yang daunnya berguguran..
Kemudian kau melepas kacamatamu, membersihkan embun dari coklat hangat yang sedari tadi berada tepat di depan wajahmu..

Aku juga melepas kacamataku, membersihkan embun..
Embun karena rintik yang menetes diantara kantung mata yang entah mengapa tak mau pergi ini..

Aku ingin hilang..
Bersama senyummu menatap bintangmu yang perlahan hadir lagi..
Malam ini tak hujan..
Tak seperti senja tadi..
Bintangmu selalu disana..
Bintang mu hanya jauh, tak pernah hilang..
Percayalah padaku.. bintangmu masih ada..

Aku ingin bercerita tentangmu..
Tentang kebetulan-kebetulan yang kau sebut takdir..
Tentang kesamaan-kesamaan yang membuatku merasa kau ada..
Tentang aku yang masih tak bisa membedakan kebetulan dengan takdir..
Tentang dirimu yang membawaku ke dunia baru..
Dunia tanpa realitas..

Aku ingin bercerita tentang mu..
Tentang hujan yang membuatmu terlelap di kedamaian malam..
Tentang kehangatan yang membuatku selalu merindukanmu..
Tentang senja yang ditemani rintik..
memaksa dua tiga anak burung itu meringkuk kedinginan menatap mentari yang perlahan hilang..
Tak hanya nama yang disebut si bungsu..
Tapi  dia berkata “dia menyayangimu”

Tapi..

Bintangmu masih disana..
Bintangmu masih disana..

Friday, November 28, 2014

Makalah Kerukunan Antar Umat Beragama (without cover)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah bangsa, Pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk di bawah suatu tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana mengenai Pancasila seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi.

MAKALAH IKATAN HIDROGEN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bumi memang memiliki banyak potensi yang tidak ada batasnya. Dari dulu hingga sekarang manusia mengolah potensi bumi ini untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mineral dan batubara yang terkandung dalam bumi pun sangatlah banyak dan mungkin tidak terbatas. Bahkan ada beberapa mineral yang mungkin sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Yang nantinya akan terus bertambah dan menjadi bagian menarik dari para ilmuwan untuk ditelurusi leb

Thursday, November 13, 2014

Sendiri

"Jadi senja, apa lagi yang membuatnya mengerti..."

 >><<

      "Kamu kenapa hey? wajahmu pucat hari ini?" ucapnya lirih sambil menyentuh dahiku perlahan.. "badanmu hangat.. kamu sakit?" katanya lagi.. Ah selalu seperti ini bukan? Aku menemukan sosok kakak lagi.. Lagi-lagi seseorang yang keibuan..

      "Hah? Paan? Ihh pegang-pegangg.. Jatuh cinta awas lo!! Iyuuhh" sigap aku mundur, melepas earphone yang sedari tadi terpasang di telingaku. dengan volume laptop 40% dan volume Winamp 10%. Entahlah dari dulu komposisi ini selalu nyaman ditelingaku. Terlebih untuk hari ini. Makalah (lagi) Ahh sepertinya mereka enggan berhenti sehari saja menghujam jari-jari munyil nan unyu ini untuk berhenti mengetik dan menulis tugas. Kurikulum yang katanya akan memperbaiki moral, tapi membuat kami yang disini merupakan kelinci percobaan dari kurikulum ini keteteran.. Berontak sana-sini.. Terlebih beban fikiran atas materi-materi ini juga masih harus dikolaborasikan dengan sikap yang se'HARUS'nya baik ini. Ahh.. Mampu apa kita? Jalani saja..

      Ahya.. kembali lagi pada ocehan nenek lampir yang biasa ku panggil 'Rin' ini.. Lagi-lagi dia 'sok' keibuan. Apa pula coba memeriksa badan seperti itu? Ah aku baik-baik saja. Hanya suhu kamarku yang pada beberapa hari ini tiba-tiba berubah, pada jam-jam seperti ini terasa lebih sejuk. dingin. 05.43 P.M . Sehingga suhu tubuhku sedikit lebih tinggi dari ruangan ini. Ah tidak juga, yang lebih tepat mungkin karena barusan dia memegang minuman yang langsung diambil dari lemari es biru yang terletak di warung ku. -dulunya warung, tapi sekarang mamakku memang lebih sering menutupnya- Ah.. Aku baik-baik saja kan?

     "Berhentilah Nan!" tiba-tiba suaranya mengalahkan nada-nada lembut lagu Sammy Simorangkir - Kau Harus Bahagia yang volumenya sudah kuatur 4 banding 1 itu. "Berhenti! Atau aku takkan pernah memperingatkanmu lagi!"

     "Heyy.. biasa aja kali ngomongnya.. Aku dengerrr.. gausah ngebentak!!! Aku lagi serius! Ngerti gak sihh!!" kataku dengan nada 3/7 dari kemampuan maksimalku untuk berteriak. Ahya aku pernah mengeluarkan kemampuan maksimalku, 6 tahun yang lalu. Pertengahan kelas 4 SD. Untuk pertama kali dan terakhir kalinya aku sedekat itu dengan makhluk yang sama dengan makhluk yang berhasil membuat Andrew Garfield yang menjadi sosok Peter Parker menjadi seseorang yang memiliki kekuatan untuk 'mengeluarkan' semacam 'rajutan' dari tangannya. Mampu berjalan didinding. dan mampu 'melompat' dari satu gedung ke gedung lainnya. Spider-Man. 

      Waktu itu pagi hari. Hari Jumat. Aku ingat sekali waktu itu mamak sudah menyiapkan pakaian olahraga orange. Hari jumat. Senam bersama. Manjanya aku? haha. Pagi itu seperti biasanya, aku bangun dengan paksaan malaikat tanpa sayapku. Cinta pertamaku. IBU.Kemudian dngan malasnya aku mengambil handuk pink yang saat itu masih berwarna merah muda ke-Jambon-jambonan. Duduk di kursi biru yang lagi-lagi ku pinta dengan tangisan. Namun akhirnya sama saja. Rusak. Dengan mata yang masih tigapuluhsembilan persen merem aku diusir Mbak Wulan, nyapu. Setelah beberapa detik mempertahankan kekuasaanku, akhirnya aku pasrah. pergi. masuk kamar mandi. Ku intip sekali lagi, dan hey lihatlah wajah puas itu! Huh! Jahat sekali!
     
     Seperti ritual mandi pagiku yang sampai hari ini aku lakukan. duduk di lantai, masukin kepala ke ember, kemudian mengambil air kumur-kumur langsung dari keran, sikat gigi 3x2x9 ku (3putaran untuk diulangi dua kali di 9 titik, depan kiri, depan, depan kanan, belakang bawah kiri, belakang bawah kanan, bawah, belakang atas kanan, belakang atas kiri, atas) kumur-kumur dari keran lagi. Kemudian shampo-an dengan dua kali pengulangan, dan kemudian bersabun. Diseluruh tubuh. menggunakan jaring-jaring (?)

     "Selama ini semua ritual itu hidup rukun sebelum tiba-tiba kerajaan spider menyerang.." kataku perlahan yang lagi-lagi membuat iblis bersayap itu cepat-cepat memegang dahiku yang kemudian ku tangkis lebih dahulu. Aku tersenyum lebar, aku menang kali ini. Kemudian ku pasang lagi ear phone di telingaku. Ku dengar sayup-sayup suara iblis bersayap itu lagi. Dan kuacuhkan.

     Ahya kembali pada peristiwa paling bersejarah itu. Tiba-tiba setelah aku melakukan ritual shampo untuk sapuan kedua, kurasakan tangan kananku yang menjulang meraih rak sabun itu telah dikuasai makhluk lain. makhluk kecil, berbulu. Dan!! Astagaaa!! ternyata kerajaan spider itu memutuskan tindakan tegas atas perlakuanku beberapa hari sebelum itu. Membunuh seekor laba-laba menggunakan parfum. milik mbakku.Terang saja, aku sontak berteriak tanpa terlebih dahulu mengambil nada. Bayangkan saja, dia punya lebih dari dua mata. lebih dari dua kaki! Mengerikan sekali membayangkan dia berjalan di jemari-jemari lentik nan gemulai seperti tanganku.

     Kemudian tanpa persiapan start jongkok ataupun start tegak yang berulang kali dijelaskan guru olahraga di SD ku yang sampai sekarang aku masih tak tau apa bedanya, aku perlahan mundur dari rak itu, turun dari 'tempatBAB' yang kujadikan pijakan untuk membuatku lebih tinggi itu, ah disaat seperti itu aku berharap aku seekor babi, eh barbie. atau sebuah cecak! Ya Tuhann!! Lepaskan tanganku!! kali ini saja!!!

     Aku mundur lagi, tak berani bergerak. tangan kananku masih lurus kedepan. kuraba belakangku, pintu!! gagang pintu!! tangan kiriku perlahan membuka pintu, putaran 90 derajat ke arah kanan. Tak terbuka juga, dan tiba-tiba laba-laba itu bergerak!! Stressss!!! "MAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK" tiba-tiba aku sudah diluar. bershampo, bersabun, mata merah, tangan kanan lecet -mungkin tanganku sudah dipasangi bom bunuh diri spider yang meledak beberapa detik setelah aku keluar. konon katanya beberapa menit setelah aku sekolah bapak menemukan mayat laba-laba itu mengenaskan di depan pintu kamar nomor dua dari belakang- duduk terlentang di depan pintu WC. ngos-ngosan. Sontak dong bapak mamak mbak wulan yang masih menganggapku adik ini mangap melihat kondisiku yang lebih mirip dengan zombie penunggu kamar mandi. Shock. Hening.

     dan setelah itu, hingga detik ini, aku selalu mengecek tempat sebelum masuk ke ruangan. Barang kali mereka masih memendam dendam tak terbalaskan atas terbunuhnya 2 prajurit yang sengaja mereka kirimkan padaku. Ah.. mereka licik!!

    "Woy Nan..." teriak Ririn di telingaku. ah ternyata dia berhasil mencabut ear phone hitam yang selalu tercolok di laptop hitamku. Aku hanya diam. tersungut-sungut kekesalan. Ah dia lagi-lagi menghancurkan lamunanku. 

    Kupasang ear phone sebelah kiriku, kemudian aku diam sebentar. Kulihat dia bolak-balik memebereskan buku yang tersebar di lebih dari setengah dari jumlah tempat yang tersedia di kamarku. "Kamu capek?" tegurku pada akhirnya. Ah lihatlah, umurnya sama sepertiku, tapi dia sudah seperti kakakku yang 7-8 tahun lebih tua daripada aku. Dia diam.

    "Makanya kamu berhenti memaksakan makalah itu. berhentilah Nan. Badanmu hangat!" teriaknya lagi, kali ini kulihat wajahnya serius. Berbias (?) degan suara Afgan pada lagunya Tanpa Syarat yang sekarang kulirik menunjukkan waktu 3.44 yang samar-samar terdengar "ku takkan lari karena cintaku sempurna" dan berakhir pada menit ke 4.01. kemudian ku lihat lagi wajahnya. Aku diam. melepas ear phone kiriku. membuat kedua-duanya sekarang berbeturan karena gelombang yang terjadi sesaat setelah earphone itu ku letakkan. Aku diam lagi.

     "Sekarang apalagi?" katanya perlahan. merengkuh bahuku, sekarang kami tepat bertatapan di atas kasur dengan sprei berwarna merah yang hampir menghabiskan luas lantai kamar biruku. Aku menatap langit-langit yang berwarna hijau. Ah selalu sesuai permintaanku. Dinding biru. damai. langit-langit hijau. menyegarkan. Aku diam lagi.

     "Rin, apa aku memang benar-benar harus sendirian disini?" ucapku akhirnya. aku diam lagi. kupandangi jam tangan hitam yang dibelakangnya samar-samar terbaca RR. pukul 06.00 PM. Hujan. Entahlah sejak kapan. aku baru sadar dari gorden coklat itu cahaya senja mulai tersamarkan. ah dia kalah dengan hujan. November. Musim hujan akan mulai.

     "Rin.. bahkan semuanya. Setiap dari mereka. Pergi Rin.. Satu persatu.." lirihku lagi. Sekarang ku lihat semuanya buram. Kacamataku berembun. Namun kali ini bukan karena keringat. Tapi air mata.

     "Rin.. Ternyata aku salah, SMA tak sebaik yang aku fikirkan.." Dia masih diam, memandangiku. Aku melepas kacamata hitam berbias ungu itu. Mengelap dengan kerudung biru tua yang kupakai. Memasangnya kembali.

     "Rin.. hari ini lagi-lagi aku merasa tak berhak ada di sini..  Lihatlah Rin.. Lihat duniaku sekarang. Ah ini membosankan! Bayangkan saja, aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk menghafalkan empat pilarku, kemudian aku harus kembali pada rutinitas harianku. sekolah. latihan untuk LCC, rohis, rapat, bimbel, les, kerja kelompok, pulang senja. bahkan malam. Mengerjakan tugas, tidur. bangun lagi tengah malam, dan kau harus tau Rin, pagi itu aku kembali harus melihat buku UUD, tap MPR, ah.. cuma tahajud yang membuatku sedikit tenang.. iya hanya itu...."

     "....Dan taukah Rin, bahkan pada hari minggu pun itu terkadang masih terjadi.. Lihatlah Rin wajah orangtuaku. Lihatlah berapa banyak uban yang hadir tanpa aku dapat menghitungnya bertambah satu-satu perharinya. Aku hanya lelah Rin...."

    ".....Lihat pula mbakku Rin, yang terpajang jelas di dinding kamarku. Mereka sekarang kemana? Ah mereka terlalu sibuk dengan kehdupan mereka. Hey Rin, ini hidupku, mana ada yang perduli setulusnya pada ku. Mereka sibuk.. teramat sangat sibuk.. Mana mereka sempat sebulan saja bercerita sedikit tentang harinya, mereka sibuk Rin. Tak seperti dulu...."

     Kacamataku berembun lagi.. Dan kini aku tak sanggup untuk sebentar saja mengusapnya. Kubiarkan buliran-buliran air hangat itu mengalir di pipiku. menetes ke rok abu-abuku. 

     ".... Rin.. Aku dulu punya sahabat. beberapa. dan mereka juga seolah lenyap. hilang. seperti ulat yang telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.. Ah barangkali sekarang mereka sedang berjalan-jalan melihat nektar bung yang teramat menggiurkan itu.. tapi aku memilih untuk bertahan disini Rin.. Aku belum ingin jadi kupu-kupu.."

     ".... Dan dulu Rin, ada seseorang yang boleh jadi mau menemaniku. Setidaknya dengan permintaan-permintaan dan mimpi-mimpi konyol yang dia katakan.. Setia.. Masa depan.. Kebahagiaan.. Hal-hal yang dipaksa lepas dari kehidupanku, saat aku benar-benar butuh..."

     "....Lalu kemudian diam-diam aku menyayangi sosok baru... Dia seolah hidup.. mengatakan dia bisa jadi yang terbaik..Mengatakan dia ada di sini.. Dia akan menjadikan aku yang terbaik diantara semuanya.. Menjadikanku sebagai alasan di setiap bahagianya.. Menjadikan aku dari salah satu orang yang hadir dan takkan pernah hilang..."

     Aku diam... mengatur nafas... Dia juga masih diam.. tenang... "Dan.. sekarang Rin.. dia juga sama saja.. Seperti pasir yang perlahan hanyut terbawa ombak.. perlahan menciptakan goresan baru..Ah nyatanya dia sama saja... Aku tak pernah jadi yang terbaik Rin.." Aku menangis lagi.. Nafasku tak beraturan lagi..

     "Ingatkah Rin? beberapa hari yang lalu aku mengatakan bahwa boleh jadi dia tak pernah menyayangiku.. Dia hanya tak mau sendiri.. Ahh Rin.. Seharusnya aku tau diri bukan?"

     Aku diam lagi, hujan perlahan menjadi rintik. kulihat layar laptop ku.. kulihat lagi. gelap.. tapi disana masih jelas pesan dari dia, ya di laptopku memang kubuat pengaturan androidnya, dan itu yang barangkali aku sesali..

     "Haha.. Rin.. Kemarin aku sengaja mendownload aplikasi android itu untuk dia. Ah akhir tahun.. pasti sinyal susah.. Hhaha. Tapi aku tak tau.. Ternyata pesan-pesan itu terkadang menyakitkan.."

     "Rin.. Mudah saja dia mengatakan ini itu padaku.. Ah nyatanya dimatanya aku bukan siapa-siapa. aku masih di nomor sekiankan. Masih ada yang lebih baik dariku. Yang katanya lebih jujur dariku.. Ah Rin.. Andai dia tau apa yang aku tau.. Bisa saja aku mengatakan semuanya, tapi mustahill.. tak mungkin.."

     "... Rin.. aku sakit.. kau benar" aku tertawa.. kau merengkuhku, memelukku, menenangkanku, aku menangis, dan saat aku tenang.. aku memelukmu.. Kau hilang... kembali ke cermin.. Dan aku kembali menangis.. Sendirian.. 


     Kurengkuh lagi buku-buku yang ternyata masih diposisi semula, aku menoleh ke arah jendela yang pias menampilkan langit yang posisinya terkalahkan oleh dinding dari rumah sebelah. Reda.. 

     Ear phone itu masih di telingaku..

     Sayup-sayup...

     Samsons - Diujung Jalan...

Tuhan kembalikanSegalanya tentang dia seperti sedia kalaIzinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kaliAgar aku dapat merasakan cinta ini selamanya



"Selamat malam Rin.. Kuharap esok kau mau mendekapku, menenangkanku lebih lama lagi..."




Sunday, November 2, 2014

Dee - Aku ada (Rectosverso)

"...Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu."


Melukiskanmu saat senjaMemanggil namamu ke ujung duniaTiada yang lebih piluTiada yang menjawabku selain hatikuDan ombak berderu
Di pantai ini kau slalu sendiriTak ada jejakku di sisimuNamun saat ku tibaSuaraku memanggilmu akulah lautanKe mana kau s'lalu pulang
Jingga di bahukuMalam di depankuDan bulan siaga sinari langkahkuKu terus berjalanKu terus melangkahKuingin kutahu engkau ada
Memandangimu saat senjaBerjalan di batas dua duniaTiada yang lebih indahTiada yang lebih rinduSelain hatikuAndai engkau tahu
Di pantai itu kau tampak sendiriTak ada jejakku di sisimuNamun saat kau rasaPasir yang kau pijak pergi akulah lautanMemeluk pantaimu erat
Jingga di bahumuMalam di depanmuDan bulan siaga sinari langkahmuTeruslah berjalanTeruslah melangkahKu tahu kau tahu aku ada

Acha - Curhat Buat Sahabat (Dee-Rectoverso)

'...Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.' 



Sahabatku usai tawa ini izinkanku bercerita

Telah jauh ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah aku di sini
Yang cuma ingin diam duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya kala ku terbaring sakit
Yang sudi dekat mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku

Dan berbisik ”pandang aku, kau tak sendiri oh dewiku”
Dan demi Tuhan jangan bilang lagi itu terlalu tinggi
Yang sudi dekat mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku

Dan berbisik ”pandang aku, kau tak sendiri oh dewiku”
Wahai Tuhan jangan bilang lagi itu terlalu tinggi