.>

Wednesday, January 1, 2014

Satu Cerpen Untuk Jihan


Hari ini mau ngepost cerpen. Cerpen asal-asalan demi sahabatku, Jihan. Berhubunga saya memang sangat baik sangat. -_-. -Sebenere ora deng- dengan jurus andalannya, diam. Satu jurus yang mampu melumpuhkan ketegaanku. -_- Lahhh.. Gimana enggak, ngambeknya beneran broo.. Yaudah tak buatin aja. Karena aku sayang. -Uhuk- Yang penting tugas terlaksana, enggak di marahin, enggak di diemin, yang pasti biar dapet es krim gratis. Hahahaha.. Kalau berkenan baca ya alhamdulillah, enggak ya enggak papa. Ceritanya yaaa gitulah. and This is it.. Maaf ancur, typo, ra nyambung -_- Monggo di lihat,,


Mungkin Memang Bukan Di OSN Tapi Di O2SN

                Mungkin ini sangat mendadak. Ya Olimpiade. Dua hari yang lalu, guru memanggil delapan anak yang dominan berasal dari kelasku. Enggi, Meilita, Putri, Aku, dan empat anak dari kelas tujuh. Dengan mudahnya guru itu member tahu kami bahwa dua hari setelah panggilan itu kami mengikuti olimpiade, dan aku mengikuti olimpiade IPS.
                Setelah pengumuman, kami boleh meminjam buku mata pelajaran yang kami dapat. Sesegera mungkin aku mengambil buku cetak IPS, dari kelas tujuh sampai kelas delapan. Sial, aku mendapatkan pelajaran yang banyak menghafal. Tapi, disinilah aku akan menunjukkannya.
                Dua hari dua malam, aku selalu ada didepan tumpukkan buku tebal itu. Ahya, dalam cerita ini aku hamper melupakan satu hal, saat itu kami masih mengikuti ulangan MID semester genap. Jadi, kami harus pintar-pintar membagi waktu antara ulangan dan olimpiade.
                Malam pertama, kuhabiskan untuk membaca buku IPS kelas tujuh, meskipun sudah pernah dipelajari, tapi rasanya ini tetap sulit. Apalagi dalam tempo yang sesingkat ini. Dari awal aku selalu khawatir bagaimana jadinya nanti. Banyak sekali hal yang harus dihafalkan.
                “Han.. Makan dulu gih. Dari tadi kamu belum makan kan ?” panggil ibuku dari ruang tengah.
                “Iya ,bu. Bentar lagi nih. Tanggung.” Jawabku tanpa berpaling dari buku pelajaran. Yang sore ini aku sudah mulai mempelajari pelajaran kelas delapan.
                “Makanlah dulu, dek. Kalau sakit nanti malah enggak bias ikut olimpiade.” Kata kakakku menimpali.
                Akhirnya aku bangkit, masih membawa salah satu bukuku ke dapur. “Bu, sendok nasinya dimana ?” teriakku.
                “Hahaha, dasar kamu. Makanya kalau mau makan ditinggal dulu. Orang udah kamu pegang kok masih dicari.” Kata kakak perempuanku itu lagi.
                “Ihh, kakak diam dulu.” Kataku kesal. Merka itu tak tau bagaimana rasanya. Kan usaha, kalau menang juga nanti merka ikutan senang.
                                                                                                ***
                Akhirnya hari itu tiba. Pagi-pagi sekali aku bangun, kembali menghadap ke soal-soal olimpiade tahun kemarin yang diberikan guru IPS padaku. Kulirik jam dinding yang tergantung disebelah pintu kamarku. Masih pukul empat pagi.
                Kulirik lagi jam itu, dan “Hah ! udah jam enam ?” teriakku sambil berlari dan bangkit mengambil handuk di pintu kamarku. Ternyata belajar membuatku lupa waktu. Dua jam terasa seperte dua menit.
                Setelah bersiap-siap aku segera memanaskan motorku, membiarkannya agar tidak mogok. Bisa bahaya kalau sampai mogok. Sebenarnya jarak antara rumahku dan sekolah tidak terlalu jauh, tapi lumayan lah.
                “Bu. Jihan berangkat dulu ya. Assalamualaikum” kataku sambil berlari kecil menuju motorku.
                “Iya nak, hati-hati. Semoga sukses olimpiadenya.” Kata ibuku dari dalam rumah.
                Aku hanya diam di perjalanan, sesekali mengingat hafalan ku. Berdoa dalam hati agar kesuksesan bersamaku. Aku sangat berharap. Sangat berharap.
                Sesampainya di sekolah, aku sempatkan bertanya soal-soal yang belum kumengerti pada guru IPS di kelasku. Seperti teman-temanku yang lain. Tapi tak lama setelah itu kami berangkat.
                Aku dan tujuh temanku bersama bu Ngatini dan pak Legiman mulai meninggalkan sekolah dengan mobil milik pak Legiman. Sesekali kulihat wajah-wajah teman-temanku. Tampak tetap tenang, padahal aku melihat kekhawatiran juga di mata mereka. Pengumuman yang mendadak memang membuat kami tidak siap.
                                                                                                ***
                Sesampainya di SMPN Muara Beliti, kami segera mencari ruangannya. Ternyata ruang IPS ada di ujung belakang. Dekat dengan ruang Fisika.
                Bel tanda pengumuman pun terdengar, dengan mengikuti intruksi dari guru kami berbari sisepan kantor sekolah yang bagiku sangat luas itu. Sedikit sambutan dan intruksi diberikan. Aku dan puluhan anak dari sekolah lain hanya mendengarkan dengan tampang yang cukup cemas.
                Ada satu harapan agar aku bisa mengikuti olimpiade ditingkat yang lebih tinggi lagi. Ya diingkat Provinsi. Oleh karena itu, aku tak pernah berhenti belajar. Aku ingin semuanya tercapai.
                Selesai sudah intruksinya, kami semua dipersilahksan masuk ke ruangan masing-masing. Setelah beberapa menit duduk, ada seorang guru yang asuk kesana. Membagikan beberapa lembar soal yang terdiri dari lima puluh soal.
                “Waktunya dua jam setengah. Pilih soal yang mudah terlebih dahulu. Kerjakan dengan hati-hati.” Kata pengawas diruangan itu.
                Dua jam setengah berlalu dengan cepat, dan perlahan semua soal sudah kujawab. Aku mulai yakun dengan jawabanku. Dan aku putuskan untuk meninggalkan ruangan. Mengumpulkan lembar jawaban itu.
                Saat keluar, aku segera menuju ke rombongan sekolah kami yang berada di depan ruang Matematika. Ku lihat semua wajah mereka pucat. Termasuk aku.
                “Gimana soalnya ?” kata temanku.
                “Lumayanlah.” Kataku
                Tak banyak komentar, ya mungkinm karena factor pikiran yang sudah kacau. Kami hanya mengikuti intruksi dari guru. Tanpa babibu, kami pulang. Meninggalkan sekolah dengan 21 kelas itu.
                                                                                                ***
                Hamper sebulan kemudian. Tak ada tanda-tanda bahwa aku menang. Mulai pesimis. Apalagi setelah aku tau bahwa adik kelasku yang mengikuti olimpiade biologi mendapatkan juara pertama.  Aku benar-benar kecewa.
                Setelah itu, pak Kasmin membawa lembar peringkat. Dipanggilnya aku dan teman sekelasku Putri. Ternyata aku mendapat peringkat enam dan Putri mendapat peringkat empat. Seharusnya sedikit lagi kami bisa mendapat tiga besar. Tapi ya inilah hasilnya. Puas tak puas.
                Tapi setidaknya, olimpiade itu mengajarkan aku arti berusaha. Tak ada tabf perlu disesali. Setidaknya beberapa bulan setelah olimpiade itu, aku dan kelompok bolaku memenangkan O2SN tibgkat provinsi. Atas usaha itu kami mendapat peringkat tiga. “Mungkin memang bukan di OSN, tapi di O2SN.” Kataku dalam hati.
Post a Comment