.>

Thursday, January 2, 2014

Aku Terlalu Takut Kehilanganmu | RNP

Satu kado kecil untuk teman dan sahabat saya, Akhyar. Bukan kado sih sebenernya, soalnya dia yang minta paksa -_- Ups.. keceplosan  :D.. Ya berhubung dia OSIS di SMA yang akan saya datangi, saya takut kalau dia balas dendam atas tidak adanya cerpen pesanan dia. Meskipun cerpen ini sangat amat di dramatisasikan. Tapi anggap saja kejadiannya seperti itu. Disini juga saya mengalah, saya terlihat sangat ya gimanaaa gitu. Ah whatever -_-  Yaaa…… jadi inilah diaaa….. CERPEN pendek  –cerpen udah pendek deng ya- special untuk Akhyaarrrr……. (lampu kerlap-kerlip. Bumi gonjang-ganjing, pelan-pelan panggung mulai bercahaya)!!


AKU TERLALU TAKUT KEHILANGANMU


“Ndaaaa,,,, bangun woooyyy….!!! Banggguuuunn!” teriak seseorang diatas ranjangku.
“Uuhhhhh..” Kataku malas sambil menarik selimut lebih tinggi.
“Males banget sih kamu.. Kata ibumu kamu udah tidur dari blablablablabla.. Kamu itu harusnya @^&*(^&*()*^^$%, males bener. Kamu itu cewek Nda blablablablablablaaa… blablablablabla *&^&@%&*())(_()*^%$#!@#$$##!! Ngerti enggak sih loh !!” makhluk itu masih mengomel. Mengomel sia-sia lebih tepatnya. Salah siapa orang masih ngantuk gila kayak gini disuruh bangun.
“Nandaaaa !! Bangun nah.” Sekarang dia lebih agresif. Menarik selimut merah bergambar bunga milikku. Melempariku dengan boneka doraemon kecilku yang malang. Menepuk-nepuk pipi tembam ku yang manis ini.
“Aaaahh.. Ampuuuunnn…” akhirnya aku menyerah. Aku sangat menyesal. “Tau kamu bakalan datang kesini, pintu kamarku bakal aku gembok. Jahatnya kamu mengganggu ritual tidur siangku ! Jahaaaaatttt” kataku marah sambil mengumpulkan 8 nyawa yang masih berkeliaran di dunia lain. Perlahan kubuka mataku, dan ternyata makhluk itu VATI !!!
“Hahahaha..  Sumpah, kamu mirip banget sama lambang bintang kamu. Liat tu rambut kamu udah kayak singa. Teriak-teriak ga jelas. Singa-nya ngamuk. Hahahaha”, kata Vati santai. Merasa tak bersalah dengan semua yang telah dia lakukan.
Ngopo to Nduk ? Ribut tenan?”  (baca : “Kenapa to nak ? Ribut sekali) kata ibuku yang tiba-tiba memunculkan kepala dari balik pintu.
“waaaaa!” teriakku kaget, “Ibu tu bikin kaget aja. Ini loh Vati. Ganggu tidur siangku. Huh !” kataku lagi. Ibu hanya tertawa sambil meninggalkan kami berdua. Dan kini nyawaku sudah tepat terkumpul semuanya.
“Udah, jangan marah ah. Ada bisnis nih. Mau gak ?” katanya lagi sambil masih memasang senyumnya. Senyum kemenangan karena berhasil mengganggu tidur siangku.
“Hem, bisnis apa?” tanyaku sambil mengucek mataku pelan.
“Temenin aku main, ntar aku kasih es krim gratis kok. Mau?”
“Hah ? Apa ?” Kataku demi meyakinkan apa imbalan yang aku dapat.
“Temenin aku, nanti aku kasih es krim”
“Haha, ayok ! Kapan ?” kataku sambil berdiri mengambil jilbab rabbani dan kacamata di atas tempat tidurku setelah mendengar imbalan itu. Tak apalah, meskipun tidurku terganggu. Yang penting dapat es krim gratis. Hahaha.
“eiitss, enak aja. Cuci muka dulu ! ganti baju ! Gamau aku pergi ngajak temen kayak singa ga dikasih makan 7 bulan. Ancur!”
“Apa yang salah ?” kulihat tubuhku dari kaki sampai kepala di depan cermin yang tergantung dikamarku. Celana pendek berwarna merah, baju panjang kummel, muka lecek bangun tidur, kacamata miring, jilbab terbalik. “Ahahahahaha…. Kereeennn.. style ku kereeenn” teriakku lagi.
“cepetan ! ganti !” teriak Vati lagi kepada ku yang masih mematut-matutkan tubuh didepan cermin sambil memasang telunjuk di pipi ala gerakan keep smile.
Aku melirik Vati lagi. Lalu memandang cermin lagi. Memasang wajah sedih. “Maaf ya Nadia. Kita harus ganti style. Kalau tidak, kita gak bakal dapet es krim. Maaf Nadia” (Inget, Nadia itu nama bayanganku di cermin! Dia itu kembaranku!)
“Ayoo Nandaaaa !!” Vati menarikku. Aku masih memegang tangan Nadia. Enggan berpisah.
“Oke, aku nyerah.”, kuambil handuk biru dari balik pintu kamarku. Bergegas menuju kamar mandi. Meninggalkan Vati sendiri dikamarku. Kesepian. “Jaga diri ya Ti” kataku lagi sambil memastikan Vati baik-baik saja.
“Alayy !! Pergi sono !” Vati melempar boneka doraemon itu lagi. Kutangkap. Malang.
“Harusnya tadi aku simpan Emon di berangkas bersama puluhan boneka lainnya. Kasihan kamu, jadi korban Vati” kataku sambil mengelus Emon pelan.
                                         ***
Aku memandang hamparan sawah dan toko pakaian di sepanjang perjalanan. Sebagian padi mulai menguning, bergoyang pelan di tiup angin musim hujan. Ya, ini November. Awal musim hujan.  Sesekali mentari pun tertutup awan gelap itu. Dingin.
 “Kita mau kemana sih?” tanyaku akhirnya.
“Jalan-jalan mbak Nanda” Kata Rizki pelan.
“Eh, mbak nggak tanya dek Rizki. Mbak tanya sama mbak Vati.” Kataku.
Ahya, tadi sebelum berangkat kami menjemput Rizki dulu. Memaksanya mengikuti kami berdua. Padahal dia sendiri yang pengen ikut. Aku hanya mengikuti kata-kata Rizki pada ku tepat sebelum dia menaiki Beat putih milik Vati, “Mbak Nanda, masa Rizki dipaksa mbak Vati ikutan”. Si Rizki itu adik Vati. Pria yang kurang lebih berusia 5 tahun itu memang sudah akrab denganku. Ya, dia adik pura-pura ku.. :D
“Haha, kita ke dam, Nda”, jawab Vati singkat.
“Dam ? Ngapain? Ketemu Akhyar ?”
“Lahiya, mau nggak ? gak mau ya gak papa, gak dapet es krim. Turun disini, kamu jalan kaki pulangnya.” Ancam Vati, sambil melirikku lewat spion.
“Eh, iya lah mau. Daripada aku jalan.” Kataku setelah berfikir sebentar.
“Nah, gitu baru Nanda. Haha” kata Vati sambil melajukan motornya lebih cepat lagi.
Rizki yang enggan ikut campur perbincangan penting yang sangat gak jelas kami memilih untuk melanjutkan makan roti isi coklat yang dibawanya tadi. Ku pandangi lagi langit, sekarang panas lagi. Oh November..
                                            ***
Sampai di dam. Kulirik arlojiku, 14.15 WIB. Masih panas. Rumput disekitar dam masih menyisakan sedikit air sisa hujan tadi pagi. Deru air dam berpadu dengan teriakan Rizki yang kegirangan berlari naik turun tangga didekat jembatan.
“Pelan-pelan, Rizki!” , teriak Vati.
Vati sahabat terbaikku, ya sebelumnya memang aku sudah sering menulis postingan tentangnya di Blog pribadiku ini. Dan kini, aku menceritakan tentang kisah cintanya, Kisah cinta monyetnya mungkin. Ya kata orang-orang kisah cinta yang terjadi pada anak seusia kami ini adalah cinta monyet. Cinta anak SMP.
Tapi, bagiku ini indah. Harusnya mereka tak setega itu, kenapa nggak cinta marmut, biar lebih imut. Daripada monyet. Ah, entahlah. Tak perlu menanyakan sesuatu yang sudah ditetapkan. Ya aku ingat kata Akhyar di status teman beberapa hari yang lalu.
“Mbak Nanda, balapan sama Rizki yuk. Siapa yang turun duluan dapat hadiah.” Kata Rizki mengajakku balap lari menuruni tangga itu. Ku iyakan.
AKu dan Rizki masih saja tertawa. Vati juga, tapi aku tau, dia menunggu.
“Masih lama gak Ti ?” Tanyaku, meyakinkan.
“Eh, kayaknya enggak.” Jawabnya singkat.
Sekarang aku dan Vati menuju ke atas jembatan. Ku gendong paksa Rizki. Duduk di samping tian biru di dekat jembatan. Menunggu.
“Eh Vati, tuh dia.” Kataku sedikit berteriak. Agar yakin dia dapat mendengarnya. Mengagetkan Vati yang masih mencoba kacamataku. Melepasnya dengan cepat, menoleh kebelakang.
Lelaki itu, bersepeda dengan jaket abi-abunya. Berjalan menuju kami, tersenyum. Dibalas senyum oleh Vati. Membawa bungkusan, Es Krim!
Kami berempat duduk ditangga disebelah jembatan. Memakan es krim itu. Berbicara secukupnya, tertawa secukupnya, bahkan kepanasan sepuasnya. Ya, panas lagi. Menyebalkan.
Selebihnya aku hanya bermain dengan Rizki, enggan mengganggu mereka. Ya bagiku lebih menyenangkan bersama anak kecil, dari dulu aku selalu bilang “Gede itu gak seru. Serius mulu.”, tapi aku juga nggak tau, kenapa sekarang aku malah pengen dewasa. Terlalu kekanak-kanakan itu aneh juga.
“Eh, Rizki. Mbak mau ngomong bentar.” Kata Vati sambil membisiki Rizki. Rizki hanya mengangguk, Vati tertawa.
“Apa Vati ?” tanyaku.
“Aku tadi tanya, kakak itu ganteng nggak. Kata rizki iya. Hahaha” bisik Vati.
“Haha, katanya anak kecil itu gak bohong.” Jawabku.
“Apa sih ?” tanya Akhyar penasaran.
“Enggaaakk” kataku dan Vati bersamaan.
Kami tertawa lagi. Akhyar Diam, memilih bermain bersama Rizki.
                                          ***
Ku lirik arlojiku lagi, 15.00. Rizki mulai sibuk. Kehausan katanya. Vati masih enggan pulang. Ya aku tau mengapa.
“Nda, mau gak temenin Rizki ke warung depan?” bujuk Vati.
“Yah, aku sendiri ?” kataku enggan bergerak.
“Kan sama Rizki, kasian dia mau minum”
“Mbak nya siapa eh. Kok aku” jawabku lagi, masih enggan.
“Ayolah, sekali. Kasihan Rizki”
“Okelah”. Kataku demi melihatnya tersenyum. Ya, aku memang tipe orang yang nggak bisaan. Apalagi kalau yang minta itu orang-orang yang ku saying. Apa saja yang penting dia bias tersenyum.
Ku gandeng Rizki, kuhidupkan beat putih itu. Meninggaklkan mereka berdua. “Dek Rizki mau air mineral atau yang lain?”
“Mau dua-duanya. Hehe” kata Rizki.
“Jiah. Ya deh. Mau yang mana ? Kalau banyak-banyak ntar Rizki mbak jual dulu baru beli minum kita.”
“Enggak mau! Yan anti aqua sama kopi aja mbak”
“Okelah…”
Sesampainya di warung yang berjarak hamper 400 meter dari dam itu kuambil satu botol air mineral dan satu gelas kopi dingin dari lemari es di warung itu. Setelah hendak naik motor, aku turun lagi. “Mbak, kopinya satu lagi ya” teriakku pada mbak-mbak yang menjaga warung itu.
“Mbak Nanda pengen juga. Haha” kata Rizki.
“Biarin. Wekkk” Kataku sambil menjulurkan lidah pada Rizki. Menerima satu gelas kopi dingin itu. Membayarnya. Tersenyum, “Makasih mbak” kataku. Rizki masih tertawa.
                                               ***
Kejadian-kejadian selanjutnya sih nggak terlalu penting. Langsung skip ke kejadian sok romantic versi kami berempat. Eh, Rizki enggak! Saat itu dia malah sibuk minta di gosok badannya. Gatal. Bagaimana tidak, dari tadi dia tiduran, meluncur di rumput. Anak-anak.
Vati mulai diam, memegang tangan Akhyar, menutupi wajahnya dengan jaket Akhyar. Kami bertiga tepat memandang langit. Tidur, ya lagi-lagi tidak dengan Rizki. Sekarang dia sinbuk dengan air mineralnya.
“Eh, hitung berapa burung itu!” kata Akhyar.
Aku diam, tetapi menghitung. Beberapa menit diam.
“39!” kata Akhyar.
“Yah, aku belum selesai !” kataku.
“Lah, pantesan kalian diam. Ternyata ngitung burung.” Kata Vati, terganggu.
Kami diam lagi. Damai.
“….. Nyanyikan lagu indah, sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali. Nyanyikan lagu indah, tuk melepasku pergi dan tak kembali……” Perlahan suara deru air dan nyanyian dari lagu Lyla itu menguasai sore itu. Kurang lebih pukul 17.00. Tak sempat ku lirik arloji.
“Nanti, kalau aku sudah di Jawa, kalian gak boleh kangen ya” kata Vati memcahkan menit-menit itu.
“Kamu yakin VAti ?” tanyaku sambil mencoba melihat matanya. Meyakinkan bahwa dia bohong.
“Iya, nanti aku SMA di Jawa. Aku pasti rindum kalian.” Katanya lagi.
Aku dan Akhyar hanya diam.
“Nanti, setiap aku pulang. Aku pengen kita kesini. Bertiga lagi.” Katanya lagi.
Aku hanya diam, membiarkan deru air, lagu itu, langit senja, burung-burung, dan air mata yang diam-diam menetes tanpa permisi.
“Eh, aku suka banget kayak gini. Benar-benar free. Damai. Haha” kataku mencoba membuat suasana lebih menyenangkan.
“Iya, tapi kamu ajak Putra ya Nda!” kata Akhyar.
“Haha, gampang.” Kataku.
Diam lagi, dan inilah saat yang paling indah. Mungkin bagi Akhyar dan Vati ini lebih indah.  Disinilah, saat langit mulai menjingga. Burung-burung mulai beranjak kembali kesangkarnya, sesekali suaranya sampai ke bumi.  Saat mentari perlahan mulai meninggalkan bagian kita..
Terdengar lagi air sungai yang perlahan mengalunkan kedamaian bersama dengan detak jantungku yang ku tahu sedang memanggil indah namamu. Saat nafasku mulai tak beraturan, mengingat kita akan berpisah.
Sekarang, aku bias menghitung setiap denyut nadimu, denyut nadi yang bergerak bersamaan dengan setiap hembusan nafasku..
Saat inilah, aku terdiam. Disampingmu, menghilangkan air mata yang tanpa ampun terus menetes tanpa seorangpun tau..
Saat ini, bahkan denting arlojiku terasa menyakitkan. Aku hanya ingin mengehentikannya. Memastikan waktu tak berjalan. Aku tak ingin saat itu tiba..
Aku terlalu menikmati saat-saat ini. Senja bersamamu.
Aku tau, mungkin engkau dan Akhyar merasakan apa yang kurasa. Bahkan lebih indah. Bahkan lebih sakit.
Karena cinta itu..
Senja ini aku bersama kalian..
Lagi-lagi bayanganku menginginkan lelaki itu disini, aku malu jika harus menangis didepan Akhyar dan Vati. Aku ingin mengatakan pada bayangan itu bahwa aku tak ingin kehilangan sahabatku. Aku ingin disini, bersama bayangan itu dan bersama sahabat-sahabatku. Aku ingin berempat disini.
Merekalah.. Sahabat terhebat.. Kekasih terhebat..
Merekalah, orang-orang yang mampu membuatku menghargai tiap hembusan nafasku..
Mereka itulah, orang-orang yang berarti..
Orang-orang yang tak perlu ku sebut namanya, tapi sangat berharga.
                                              ***
“Mbak, pulang yuk! Udah sore. Ntar mama marah” kata Rizki menghentikan semuanya.
“Ayo, sebelum hujan,” kata Vati.
Kami pulang, bersama tetes hujan yang perlahan mulai menghujam bumi. Bersama dengan hatiku yang masih enggan kehilangan.
Vati, aku menyayangimu. Sahabat terbaikku. Aku ingin selamanya seperti ini. Meski aku tau, dengan berpisah aku akan mengerti apa artinya merindukanmu. Aku hanya ingin meyakinkan pada hati ini. Esok, saat aku mengirimkan SMS seperti biasanya, kamu masih bisa dating kerumahku dalam hitungan menit. Aku terlalu tau rasa sakit saat jauh darimu. Aku mengerti, ini adalah keinginan dan cita-citamu. Hanya karena itulah aku merelakanmu. Tapi, aku masih ingin disini bersamamu. Melihatmu tersenyum, melihatmu tersipu saat ku sebut nama Akhyar. Dan.. aku masih ingin, menangis bersamamu di pelukanmu. Meskipun, aku tau kau sering menggangguku. Aku pasti merindukanmu.” Kataku dalam hati membiarkan air hujan itu mentes membuat air mata itu tak terlihat. Aku selamanya ingin kau mengingatku sebagai sahabat.
                                                                _END_


________________________________ Pesan _____________________
1. Kejadian awal gak separah itu sebenernya. AKu gak gila. (melindungi image ku Haha)
2.  Maaf Akhyarrr.. KAmunya dikit. Malah keliatan curhat akune. :D
    3.Maaf Buat vati, banyak yang gak sesuai :D
       4.Maaf dedek Rizkii.. Mbak Nanda kebanyakan ngebully Rizki. Hahaha.    
    5.       Maaf buat pembaca, kalau ceritanya jelek :D
    6.       Buat yang puisi tentang senja itu, sebenernya bukan buat kejadian ini. Tapi tak buat sebelum kejadian. Berhubung cocok. Tak masukin deh. Makanya kalau isinya agak maksa ya gakpapa.. Hehehe :D
    7.       Semoga Akhyar suka, dan nggak ngebully waktu saya masuk SMA. (pembaca bantu doa yaaa)

Post a Comment