.>

Sunday, April 14, 2013

Kisah Dayang Torek



Kisah berasal dari desa Ulak Lebar, marga Sindang Kelingi Ilir, Lubuklinggau Sumsel.  Alkisah, di dusun Ulak Lebar tersebut hiduplah  seorang putri yang cantik luar biasa. Tubuh yang tinggi semampai, wajahnya  halus bercahaya, rambutnya panjang ikal mayang, jarinya-jemarinya lentik. Matanya berkilau seperti bintang. Gadis itu bernama Dayang Torek. Karena  kecantikannya banyak orang terkagum-kagum. Dayang Torek terkenal sampai ke pelosok negeri. Banyak orang yang mengatakan  Dayang Torek seperti titisan bidadari  dari kayangan. Atau peri (orang Lubuklinggau menyebutnya) yang turun dari langit.
Selain memiliki kecantikan yang luar biasa, Dayang Torek juga pandai menari.Sehingga Dayang Torek kerab diminta untuk menari di hadapan para pembesar yang datang berkunjung ke Ulak Lebar.
Ternyata, kecantikan Dayang Torek menyebar ke seluruh antero negeri. Dan sampailah tentang kecantikan Dayang Torek ketelinga pangeran dari Palembang. Pangeran dari Palembang tersebut ingin membuktikan apakah benar Dayang Torek seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa seperti digebar-gemborkan orang.Ketika sampai di desa Ulak Lebar, seperti biasa para tamu disambut dengan tari-tari persembahan.  Betapa terkejutnya pangeran ketika melihat seorang penari yang lemah gemulai dan memiliki kecantikan luar biasa. Pangeran sangat terpesona.
“ Wow…cantik sekali gadis ini. Luar biasa…Benar kata orang kalau di desa ini ada bidadari. Siapakah nama bidadari ini..?” batin Pangeran. Kekaguman Pangeran membuat dirinya ingin memiliki putri Dayang Torek. Hatinya sudah bulat ingin menyunting putri Dayang Torek. Lalu pangeran menghadap ayahanda Dayang Torek, Gindo Ulak Lebar. Menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Dayang Torek Istrinya.
“ Gindo Ulak Dalam.., saya bermaksud ingin menyunting putri Gindo, Dayang Torek. Aku ingin membawnya ke istanaku di Palembang untuk kujadikan permaisuri” Ungkap pangeran.
“ Hamba tidak bisa menolak baginda Pangeran. Semuanya hamba serahkan kepada Dayang Torek sendiri. Karena dialah yang punya hak untuk menentukan nasibnya” Jawab Gindo Ulak Dalam dengan hati bergetar.
Namun ketika Pangeran mengemukakan maksudnya dengan Dayang Torek, ternyata  Dayang Torek dengan halus menolak permintaan Pangeran dengan alasan belum mau berumah tangga. Sang Pangeran berusaha menutupi kekecewaannya. Dalam hati dia bertekad suatu saat Dayang Torek pasti akan dipersuntingnya.
Setelah kembali ke Palembang, beberapa kali Pangeran mengirim utusannya ke dusun Ulak Lebar guna mendapat kepastian terhadap kesediaan Dayang Torek, untuk disunting dan diboyong ke Palembang. Dan tak lupa setiap utusan yang datang ke desa Ulak Lebar membawa barang-barang berharga sebagai hadiah.
Melihat gelagat ini, Gindo Ulak Lebar mulai  waspada terhadap penolakan putrinya. Walau bagaimanapun Pangeran adalah atasannya. Tidak menutup kemungkinan suatu saat akan terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi di Ulak Lebar ini. Akhirnya Gindo bersama dengan warganya menanami sekeliling kampung dengan bambu yang sangat rapat. Maksudnya sebagai benteng pertahanan.
Namun sebelum pekerjaan mereka selesai, Dayang Torek telah diculik.  Semua penduduk geger. Dayang Torek di cari kemana-mana namun tidak bertemu juga. Akhirnya diketahuilah kalau Dayang Torek telah diculik oleh orang suruhan pangeran. Suatu hari Gindo datang ke Plembang menemui Pangeran.
“ Pangeran junjungan patik, hamba mohon kembalikan putrei hamba. Mengapa Pangeran menculiknya?”
“ Gindo, aku menyukai anakmu itu. Berulang kali aku meminta kesediaannya un tuk kupersunting jadi istriku tapi diaiselalu menolak. Sekarang dia telah menjadi istriku.dia akan bahagia hidup di istanaku. Pulanglah ke Ulak Lebar”
Dengan perasaan sedih akhirnya Gindo pulang ke Ulak Lebar. Bagaimanapun cara pangeran menculik anaknya bukanlah tindakan terpuji Selanjutnya mengetahui ini, adik Dayang Torek yang bernama Nyongang menyusul ke Palembang. Ternyata Dayang Torek telah mempunyai seorang putra. Darah muda Nyongang bangkit. Dia tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Dayang bukan dijadikan permaisuri, akan tetapi dijadikan sebagai selir.
“Ayuk Dayang Torek, kau harus lari dari sekapan Pangeran bejat itu ayuk. Mari pulang bersamaku” Bujuk Nyongang.
“Adikku…, aku telah berputra”
“Tinggalkan  saja, Bukankah ini istana bapaknya”
“Tidak dik, Bagaimanapun dia adalah darah dagingku. Aku tidak mungkin meninggalkannya”
“Baik, kalau begitu kata bawa pergi” kata Nyongang. Akhirnya Nyongang berhasil membawa kabur Dayang Torek dan anaknya. Mereka berjalan- keluar masuk hutan tiada henti. Akhirnya s amapailah mereka di tepi sungai Kelingi di kaki Bukit Sulap. Sejak awla Nyongang tidak menyenangi anak Dayang Torek yang dianggapnya a nak haram.  Munculah akalnya untuk melenyapkan anak itu. Diselipkannya taji ditangannya lalu dtepukannya ke dahi anak Dayang Torek. Anak Dayang Torek meninggal seketika.
“Nyongang! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau bunuh anakku?” Kata Dayang Torek histeris.
“Tidak yuk, aku hanya menepuk nyamuk yang menempel di dahinya”
“Tidak!! Kau sengaja ingin melenyapkan anakku!.”
“Yuk, sudahlah mengapa harus ditangisi? Bukankah ayah anak ini adalah orang yang ayuk benci? dan ini.., ini anak haram yuk!”
“Tidak! Kau tidak boleh melakukan ini. Anak ini tidak berdosa Nyongang. Dia adalah darah dagingku. Aku benci dengan kau! Kau juga jahat!! Jahat!!” Dayang Torek menangis
sambil berlari ke Bukit Sulap.
“Ayuk….! Jangan pergi. Ayuuuuk!!” Nyongang berteriak-teriak mengejar Dayang Torek. Tiba-tiba Dayang Torek lenyap tak tahu kemana.”Yuk…kemana kau yuk…, kemana kau…mengapa kau menghilang!” Nyongang menangis sejadi-jadinya.
Akhirnya tinggalah Nyongang menangis sedih meratapi kepergian Dayang Torek yang hilang di Bukit Sulap. Sejak itu, untuk mengenang peristiwa tragis di Bukit Sulap masyarakat menyebutnya silampari. Artinya Putri atau peri yang hilang (silam). Sampai sekarang Lubuklinggau dan Musi Rawas sering disebut Bumi Silampari.
Post a Comment